WIKA pasti bisa

Belakangan ini terdapat banyak sentiment negative terhadap saham saham BUMN, hal ini membuat saya tertarik untuk berinvestasi di BUMN yang lagi murah murah ini (PGAS, WIKA dll) terutama yang lagi saya pegang cukup banyak persentasenya adalah WIKA. Pegang di harga 1940, bahkan sempat turun harga sampai 1700 which is insane. Banyak yang bilang kalo pemerintah akan gagal bayar (beban WIKA sebagai perusahaan konstruksi yang banyak mengambil proyek proyek pemerintah makin berat) karena pemasukan pajak pemerintah sampai september 2017 mandek hanya tercapai 60% dari target penerimaan pajak. Utang pemerintah ditargetkan 2.92% dari GDP (padahal batas maximum masih 3%, berarti sebenarnya target masih dibawah batas maximum). Terus pemerintah dirumorkan akan menunda proyek infrastruktur (gak dur duran lagi seperti yang Jokowi canangkan; 35000MW Pembangkit listrik, 10000KM jalan tol dan proyek lainnya yang dinilai sangat ambisius) yang akan berdampak negativ sekali terhadap saham2 konstruksi terutama BUMN. Asing juga banyak yang keluar dari saham saham BUMN alhasil lokal ikut ikutan keluar sehingga saham BUMN terperosok semua harganya sampai ke yang paling rendah selama beberapa tahun terakhir, termasuk WIKA.

Semua rumor boleh berhamburan, makin negativ makin seru orang menyampaikan dan makin parah juga terperosok harganya. Tetapi ingat kata WB akan tata cara berinvesting, yaitu be greedy when others are fearful and be fearful when others are greedy. Tentunya be greedy juga dengan penuh pengetahuan tentang sahamnya yahh.. gak bisa membabi buta beli saham jelek asal asalan. Setelah saya teliti WIKA berfundamental baik. Yang pertama management WIKA yang mengambil hutang secara hati2 dibanding dengan perusahaan konstruksi lainnya WIKA lebih kecil DER nya. Secara operation cash flow memang WIKA banyak minus terus beberapa tahun ini, ini karena proyek WIKA yang semakin tahun semakin besar. Karena perusahaan konstruksi talangin dulu proyeknya baru dibayar setelah proyeknya selesai secara bertahap. Jadi tahun tahun waktu proyeknya sudah selesai maka WIKA akan pegang cash banyak banget, asal pemerintah dan pemberi proyek lainnya gak gagal bayar yah. Lantas gimana WIKA mau membiayai proyek yang semakin lama semakin besar ini? WIKA sudah mensiasatinya dengan Komodo Bond International yang akan dikeluarkan November 2017, ditargetkan akan dapat dana tambahan RP. 5,3triliun. Lagi, WIKA akan IPO anak usahanya WIKA Gedung juga November ini yang ditargetkan menghasilkan sekitar 4T. Jadi meskipun proyek WIKA makin besar lagi tahun depan, saya rasa current liability WIKA masi sangat aman, dengan tambahan modal yang banyak ditambah lagi bayaran yang akan diterima WIKA tahun depan.

Pandangan saya pemerintah juga gak akan gagal bayar apalagi proyek vital seperti konstruksi. Sekitar akhir Oktober 2017, Jokowi menyampaikan akan terus membangun infrastruktur karena infrastruktur adalah landasan penting untuk perekonomian negara yang merata. Bahkan sebenarnya pemerintah sampai September 2017 hanya berhutang 1.67% dari GDP (atau bisa disebut defisit anggaran), pemerintah baru mengeluarkan sekitar 60% dari target pengeluaran. Pemerintah dibawah Sri Muliani juga berhati hati dalam melaksanakan tugasnya, kalau sampai kurang uang pun untuk membayar yah pemerintah akan utang lagi which is utangnya masih manageable kok (dibawah 3% dari GDP/PDB). Makanya dikeluarkan lagi Obligasi negara untuk membiayai proyek proyek ini semua.

Saya berpandangan positif terhadap saham saham konstruksi terutama WIKA, karena kinerja WIKA cukup baik dan bertumbuh terus, lebih konservatif terhadap hutang dibandingkan emiten konstruksi lainnya, dan cepat ato lambat WIKA akan kembali ke harga wajarnya di PER 22 dan PBV sekitar 2, which is di harga 2400. Ingat, investasi itu growing jadi butuh waktu untuk suatu perusahaan grow dan diketahui banyak orang. Investasi itu bukan harga yang naik turun setiap hari tetapi investasi itu adalah perusahaan baik yang kita beli pada harga wajar (atau murah lebih baik lagi seperti WIKA saat ini). Mulailah investasi dari sekarang pada saat harganya murah, bukan nanti pada saat harganya mahal. Sabar, tunggu dan kita semua akan menuai hasil yang memuaskan.

Comments

Popular posts from this blog

Becoming Selective Contrarian

Analisa Saham Durable (MBAP)

Saham Murah Yang Belum Terlihat