Saham, Ah Judi Itu MAHH..

Apakah anda termasuk orang yang pernah mendengar kata seperti judul diatas? atau mungkin anda sendiri yang mengucapkannya? Bener gak sih kalo saham itu judi? Suatu hari saya berusaha untuk menjelaskan tentang investasi di saham kepada saudara saudara saya, begitu saya bilang investasi di saham, raut muka mereka langsung berbeda dan at the end of the conversation ada saudara yang bilang ke saya "hati hati y itu judi, menang banyak bisa kalah banyak juga". Well, pasti anda juga sering mendengarkan orang orang Indonesia sering bicara demikian. Kemungkinan ada hal buruk yang telah dialami oleh mereka ataupun cerita yang sangat mengerikan dari teman teman atau saudara mereka yang pernah rugi besar di pasar saham, sampai sampai mereka bilang saham itu judi. Saudara saya sendiri ada yang bangkrut dari bermain saham padahal sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk membeli rumah dari hasil kerja selama bertahun tahun. Karena ditaruhnya semua uang simpanan itu di pasar saham, waktu saham itu jatuh harganya dia terpaksa jual rugi abis abisan, dan uang tabungan yang telah terkumpul selama bertahun tahun habis dalam sekejap dipasar saham. Sampai saat ini saudara saya itu tidak bisa membeli rumah lagi dan sangat trauma kalau sudah dengar namanya saham. Sejak saat kejadian itu  seluruh keluarga saya menentang yang namanya saham, bahkan bisa dibilang anti saham.

Beberapa puluh tahun sudah berlalu dari sejak kejadian tersebut, saya yang dibesarkan dengan metode "jangan sekali sekali sentuh saham", pada tahun 2013 penasaran juga dengan yang namanya saham (mungkin ada benernya konsep psychology, makin dilarang makin kepingin) karena denger denger cuannya enak (karena ada booming batubara dan property pada saat itu, banyak orang yang jadi kaya dari saham) hanya dengan diam diam duit datang pikir saya. Saya yang diliput penasaran coba coba juga buka rekening sekuritas dan taruh sejumlah uang tabungan saya disana. Dengan modal rekomendasi dari broker yang baru saya kenal saya taruh uang tersebut di saham HRUM (katanya lumayan bisa cuan 1% dalam sehari, katanya lohh). Bukannya cuan sepersen dalam sehari, waktu hari itu juga, sorenya saham itu sudah turun sekirar 2%, wah saya yang langsung panik jual cepet cepet saham itu, rugi dan reflexi diri dalam hati "hmmm bener juga yah main saham itu judi, mana bisa kaya kalo judi begini, banyak dari mereka yang kaya mungkin hoki aja lah". Tapi karena penasaran saya terus mencoba dengan uang saya yang minim, saya berani beranian coba dengan hanya modal rekomendasi dari broker aja. Saya gak ngerti saham apa yang saya beli, perusahaan macam apa itu ato jualan apa perusahaan itu. Yang penting rekomendasi bagus ya saya masuk aja (beli), kalau jelek ya saya keluar (jual). Keluar masuk, keluar masuk saham tanpa tau apa yang saya beli ini berlangsung sekitar 2 tahun. Ada yang rugi dan ada yang untung, hasilnya gak sampai rugi sih, tapi perasaan hartanya gak berkembang, disitu situ aja, gimana kaya nih dari sini? Beruntung tahun 2015 akhir, saya cukup menyadari kalau yang saya lakukan ini adalah judi. Saya cukup yakin hanya masalah waktu yang akan membuat saya menaruh uang yang besar (mungkin karena ada cuan jadi besar kepala dan hati maruk) dan ujungnya saya bangkrut dari saham yang turun dan saya gak ngerti kenapa ini bisa terjadi, karena in the first place saya juga gak tau apa yang saya beli. Setelah saya sadar cara main dari rekomendasi analis ini adalah judi dan tidak benar, saya coba pelajari dari buku buku dan blog tentang value investing. Semua ini saya lakukan juga karena rasa penasaran terhadap saham (kok orang bisa kaya dari saham, kenapa saya tidak), makanya saya menyempatkan diri untuk belajar lebih lagi. Intinya saya meluangkan banyak waktu hampir sekitar 4-6 jam sehari hanya untuk mempelajari cara bermain saham dengan methode value investing seperti kata Lo Kheng Hong setiap hari hanya reading, thinking and investing. Puji Tuhan, pelajaran saya cukup membuahkan hasil, terutama pola pemikiran saya tentang saham yang tadinya bermain dengan modal rekomendasi orang lain/ ikut ikutan (bisa dikatakan juga judi saham lah), jadi berinvestasi disaham dengan menganalisa sendiri semuanya dari a-z.

Kalau kata orang, “saham itu judi”, saya sekarang bisa dengan yakin mengatakan “Judi itu sifat orangnya, bukan salah sahamnya”. Pastinya saham itu bisa dijadikan judi, jangankan saham, harga cabe atau bawang merah besok naik atau turun aja bisa dijadikan judi, tapikan bukan berarti cabe atau bawang itu judi kan. Nah masyarakat di Indonesia itu pastinya kurang pengetahuan tentang saham sehingga bisa banyak yang berasumsi kalau saham itu judi, ibaratnya kalau kita tidak beri informasi ke anak umur 5 tahun tentang fungsi cabe dan bawang dan mereka hanya dapat info dari tetangga yang taruhan untuk harga cabe dan bawang, yah mereka juga gak akan tau kalau cabe dan bawang bisa untuk masak bukan untuk judi saja. Informasi yang kurang, bisa tercermin dari data yang tertera di KSEI, kalau pemain saham di Indonesia sampai akhir 2017 hanya 600 ribu orang1. Jumlah ini hanya 0.24% dari total penduduk Indonesia, Jumlah ini juga jauh dibandingkan banyak Negara lainnya bahkan Negara tetangga sekalipun seperti Malaysia yang memiliki jumlah pemain saham sebesar 18%, Singapore memiliki pemain saham 30% dari total penduduk. Bahkan United State memiliki jumlah pemain saham sebesar 54% dari jumlah penduduknya2, inipun sudah turun dari sebelum krisis financial global ditahun 2008 yang memiliki jumlah pemain saham sebesar 62% dari total penduduk. Angka pemain saham yang sangat rendah di Indonesia pastinya cerminan dari ketakutan masyarakat akan saham karena pola pikir pasar saham adalah tempat judi legal, haram untuk berjudi, dan pastinya resiko amat besar sekali sudah banyak yang bangkrut karenanya. Padahal saham itu tidak haram loh karena sudah diresmikan sama MUI juga kalau saham itu halal3.

Seperti yang sudah kita bahas tadi, yes saham bisa jadi sarana judi legal dan yes memang sudah banyak yang bangkrut karenanya. Tapi bukan berarti saham itu hanya sebuah sarana judi, saham itu juga bisa jadi sarana yang baik untuk berinvestasi dan kita bahkan bisa menjadi kaya raya karena memilikinya. Tahukah anda bahwa 1% orang teratas dunia itu menjadi kaya karena saham yang mereka pegang?4. Mereka yang adalah orang orang terkaya menginvestasikan harta mereka sebagian besar dipasar saham (equitas) dari pada di property atau obligasi dan lainnya. Menurut artikel dari Bloomberg orang terkaya akan menyimpan asetnya di saham, sedangkan orang golongan kaya sedang atau medium kebanyakan menyimpan asetnya lebih banyak di property, sedikit saham dan sisanya di obligasi. Orang orang terkaya ini ya katakan saja Bill Gates (pemilik saham Microsoft dan Cascade), Warren Buffett (pemilik saham Berkshire Hathaway), Mark Zuckerberg (pemilik saham Facebook), Jeff Bezos (pemilik saham Amazon), kalau di Indonesia ada Hartono bersaudara (pemilik saham Djarum (bukan perusahaan terbuka) dan saham BCA), Eka Tjipta Widjaja (pemilik saham grup sinar mas), Mochtar riady (Pemilik saham grup Lippo), Ciputra (pemilik saham Ciputra grup) dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sampaikan satu persatu. Anda bisa melihat daftar lengkap para orang orang terkaya dan saham yang dipegangnya di dalam dan luar negri dari Forbes.

Mungkin anda akan menilai, “wahh itu mah semuanya sudah top punya karena mereka memiliki perusahaan yang mapan yang dirintis dari masa mudanya”. Jangan salah ada juga loh, ada investor retail yang terkenal beli saham aja jadi kaya raya seperti Lo Kheng Hong. Sehabis itu kemungkinan anda akan bertanya “loh yang dimiliki mereka semua kan perusahaan bukan saham, kenapa jadi saham?” (kecuali Lo Kheng Hong yang notabene tidak memiliki perusahaan apapun hanya memiliki pure saham). Nah justru disinilah bedanya antara penjudi dan investor yang sesungguhnya. Seorang penjudi akan membeli saham, namun seorang investor sejati akan membeli perusahaan. Memang keduanya mendapatkan saham dari membeli saham, baik di pasar modal atau di tempat lainnya, namun seorang penjudi mengangap saham sebagai kertas untuk jual beli, sedangkan seorang investor sejati mengangap saham sebagai sebuah surat kepemilikan perusahaan. Nah, kalo anda lihat orang orang terkaya ini, mereka tidak membeli saham sebuah perusahaan lalu dalam waktu minim katakan lah sebulan atau setahun menjualnya untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan saham tersebut. Namun yang mereka lakukan adalah menjadi pemilik saham suatu perusahaan yang baik untuk selama mungkin atau paling tidak untuk ukuran waktu yang sangat panjang sekitar 10 tahun atau lebih (hal yang dilakukan Warren Buffett). Tentunya untuk memegang suatu perusahaan untuk selamanya atau relative dengan waktu yang sangat panjang, seorang investor tidak akan beli kucing dalam karung atau ikut ikutan rekomendasi orang atau apapun itu yang dia sama sekali tidak mengerti dia beli apa dan jual apa. Tentunya dia akan menyelidiki lagi, lagi dan lagi sampai seolah olah ia ingin membeli 100% perusahaan itu, baru dia berani mengambil keputusan untuk berinvestasi. Dan karena dia sudah mengetahui keseluruhan perusahaan tersebut, tentunya turun naik harga sehari hari tidak akan mempengaruhi keputusannya untuk tetap berada di dalam perusahaan tersebut, karena dia tahu bahwa ini adalah perusahaan yang baik dan menghasilkan, dan kendaraan/perusahaan ini akan mengantarkannya menjadi orang kaya.

Dengan perumpamaan, analogi yang saya dapat adalah, anggap lah saham ini tidak listing di bursa dalam artian perusahaan tertutup. Nah, sekarang anda diajak join partner sama teman anda (teman bisa diasumsikan sebagai pemilik perusahaan terbesar sekarang ini); pastinya seorang investor yang rational akan mempelajari dulu perusahaan yang akan dia join dengan sebaik baiknya dan bukan main asal beli untuk kemudian besokannya dijual lagi ke teman yang lain. Dalam research yang dia lakukan tentunya seorang investor rational akan menyelidiki assetnya, labanya, serta cash yang dihasilkan oleh perusahaan teman tersebut, serta bagaimana sifat teman yang mengajaknya, apakah dia seorang yang dapat dipercaya atau tidak dan lain lain sebagainya. Setelah research selesai dan anda memutuskan untuk join saham dengan teman anda, apakah ini merupakan suatu judi? atau usaha? Mungkin ada yang tetap bilang bahwa anda judi karena anda berspekulasi dan anda kan gak tau apakah perusahaan ini kedepan bisa untung atau tidak. Tapi sebagian besar orang pasti akan berkata bahwa ini adalah usaha dan bukan judi, karena lancar atau tidaknya bisnis ke depannya hanya kehendak yang Maha Kuasa kan. Nah, sebenarnya berinvestasi di pasar saham itu sama dengan perumpamaan perusahaan joinan teman tersebut. Kalau kita menganalisa dengan baik secara fundamental, perusahaannya dianalisa luar dalam dan kita pegang perusahaan tersebut untuk selamanya atau dalam jangka waktu yang lama, maka perusahaan yang baik tadi menghasilkan laba yang memuaskan dan akan memperkaya kita juga. Apa bedanya dengan kita joinan perusahaan dengan teman tadi? Bisa saya katakan tidak ada bedanya, bedanya hanya perusahaan bersama sama teman tadi adalah perusahaan tertutup dan saham ini adalah perusahaan terbuka. Dengan konsep seperti ini tentu kita tidak berjudi, melainkan lagi berusaha. Bahkan didalam pasar modal kita bisa dengan bebas memilih perusahaan yang sudah mapan, dan berjalan dengan baik dengan resiko tertipu yang lebih rendah karena semua perusahaan terbuka laporan keuangannya diaudit dan diawasi oleh banyak kepentingan (kalau perusahaan tertutup joinan teman akan sangat sulit kita menyelidiki laporan keuangannya dan lain sebagainya maka resiko kita tertipu juga lebih besar).

Setelah saya mendalami pasar saham lebih lagi, saya sekarang tahu arti dari membeli saham yang benar, yaitu membeli suatu perusahaan yang baik dan menghasilkan keuntungan untuk kita dan cepat atau lambat akan memperkaya kita. Sekarang karena saya yang mau membeli perusahaannya, jadi saya juga harus meluangkan waktu untuk mempelajari secara dalam untuk perusahaan tersebut (sama halnya seperti joinan perusahaan tadi). Dengan demikian saya sebenarnya bukan sedang berjudi namun saya sedang berinvestasi dengan cara yang benar seperti 1% of the richest people in the world. Alhasil saya sudah menjalani pasar saham dengan analisa sendiri selama 2.5 tahun, dan selama ini hasilnya cukup memuaskan. Tahun 2016 saya mendapatkan return 24%, tahun 2017 saya mendapatkan return 27.6%, dan hopefully selama berusaha dengan baik setiap tahun aset yang saya investasikan akan memberikan return yang cukup memuaskan terutama dalam jangka panjang.

Dengan demikian bisa saya simpulkan bahwa saham adalah surat kepemilikan suatu perusahaan yang peruntukannya bisa untuk investasi atau juga untuk judi (ingat judi itu sifat orangnya bukan salah sahamnya). Namun jikalau kita ingin keluar dari paradigma judi saham, maka kita harus menjadikan saham sebagai surat kepemilikan suatu perusahaan dan menyadari pentingnya melakukan analisa secara fundamental layaknya sebuah perusahaan yang ingin kita miliki 100% untuk selamanya. Dengan menjadikan saham untuk sarana investasi, saham bisa memberikan kita keuntungan yang amat besar bahkan lebih besar dari instrument investasi lainnya (itu sebabnya orang orang terkaya memilih saham sebagai investasi asetnya). Semoga orang orang Indonesia bisa mendapatkan informasi yang benar dan berinvestasi di saham dengan benar pula, sehingga banyak true investor yang akan menikmati kenikmatan yang dirasakan oleh orang orang terkaya, ekonomi Indonesia meningkat dan semakin kaya dan makmur negaranya.

“Perusahaan yang baik akan seperti mesin pencetak uang yang akan menghasilkan uang dari tahun ke tahun semakin cepat untuk pemegang sahamnya” – Lo Kheng Hong

Sumber:


Popular posts from this blog

Becoming Selective Contrarian

Analisa Saham Durable (MBAP)

Saham Murah Yang Belum Terlihat